Banjir dan longsor menjadi luka besar yang menganga di tanah Sumatera saudara setanah air.
Bismillahirramanirrahiim..
“Perumpamaan kaum mukmin dalam saling cinta, saling mengasihani, dan belas kasih, mereka bagaikan satu jasad. Apabila satu anggotanya sakit maka seluruh tubuh akan merasakan tidak bisa tidur dan demam.” (HR Muslim)

Sahabat Al-Fatih fillah.
Ada masa-masa dalam hidup ketika kita merasa hati kita telah terlalu sering ditarik untuk memberi. Kita membantu saudara yang jauh, menguatkan yang rapuh, menenangkan yang gelisah… sementara diri sendiri kadang kehabisan kata untuk menghibur luka yang disimpan diam-diam.
Dan hari-hari ini, kita kembali diajak memberi — kepada saudara-saudara kita di Sumatra yang diuji banjir dan longsor.
Pertanyaannya lirih: “Apakah kebaikan ini akan kembali kepada kita?”
Allah seperti sedang berbisik bahwa setiap kebaikan selalu bergerak, selalu mencari jalannya untuk kembali, dan tidak pernah hilang di tengah perjalanan. Bahwa hati yang memberi sebenarnya sedang diperluas untuk menerima.
1. Hati yang Memberi Adalah Hati yang Diperluas
Saat anak-anak dan para orang tua di Kuttab mengulurkan infaqnya, tidak ada yang hilang dari diri mereka.
Yang terjadi justru sebaliknya:
Allah sedang meluaskan ruang di dada mereka untuk menerima nikmat-nikmat baru yang belum mereka ketahui.
2. Kebaikan Tidak Pernah Menguap
Akan ada hari ketika Allah mengembalikan kebaikan itu — mungkin bukan lewat harta, mungkin lewat kemudahan, ketenangan, atau keselamatan keluarga kita.
Kebaikan selalu menyelinap kembali, seperti air yang mencari celah, lalu jatuh lembut tepat pada waktu yang paling dibutuhkan.
3. Kehadiran Balasan, Sesuai Waktu Ilahi
Takdir selalu datang tepat waktu.
Ada doa yang langsung berbuah.
Ada doa yang Allah simpan, lalu dikembalikan di saat kita hampir menyerah.
Ada pula kebaikan kecil yang kita kira lenyap, namun kelak ia pulang membawa cahaya yang lebih besar.
Hari ini, mungkin kita memberi sedikit — tetapi Allah sedang menyiapkan balasan yang tidak sedikit.
4. Kekuatan Jiwa dari Memberi
Secara batin, memberi membuat kita lebih kuat.
Inilah hikmah mengapa dalam setiap bencana, Allah membuka pintu infaq:
Agar hati-hati yang rapuh kembali saling menguatkan. Anak-anak yang menyisihkan recehan terbaiknya hari ini sedang melatih struktur jiwanya untuk menjadi insan yang lebih kokoh, lebih empatik, dan lebih kaya secara ruhani.
5. Allah Tidak Pernah Mengabaikan Hati yang Baik
Dalam hadits Qudsi, Allah berfirman: “Wahai hamba-Ku, berinfaklah, niscaya Aku akan berinfak kepadamu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)Janji ini cukup untuk menenangkan seluruh gelisah tentang rezeki dan balasan.
Jika hati kita hari ini memilih memberi, itu tanda bahwa Allah sedang memilih kita untuk menerima kemuliaan-Nya kelak, pada bentuk dan waktu yang Ia tentukan.
Inilah Ukhuwah. Inilah Ta’awun.
Alhamdulillah alladzi bini’matihi tatimmush shalihat
Penerimaan Taawun Sumatera dari saudara untuk saudara kita dalam dua pekan terkumpul dengan jumlah Rp9.175.772
Kebaikan Itu Selalu Kembali
Mungkin kita merasa hanya memberi sedikit.
Namun siapa tahu, dari sedikit itu Allah menumbuhkan banyak keberkahan.
Jazakumullahu khairan wa barakallahu fikum,
wahai keluarga besar Kuttab Al-Fatih yang hatinya luas dan tangan-tangannya ringan menolong saudara-saudara di Sumatra. Semoga Allah mengganti setiap rupiah, setiap niat, setiap doa, dan setiap langkah menuju kebaikan dengan pahala yang tidak putus sampai hari kiamat.
Barakallahu fikum. Wallahu a’lam bish-shawab
Written by : Ust. Saabiqun / Guru Qanuni KAF Jaktim
